ACEH TENGGARA — Ramainya pemberitaan tentang hasil mengecewakan Kafilah Aceh Tenggara pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-37 tingkat Provinsi Aceh di Pidie Jaya menimbulkan beragam reaksi publik.
Tak sedikit masyarakat yang menyuarakan kekecewaan, bahkan muncul desakan agar Kepala Dinas Syariat Islam dan jajarannya segera dicopot.
Namun di tengah sorotan tajam itu, penting bagi kita untuk menatap persoalan ini secara lebih bijak dan menyeluruh.
Kegagalan bukanlah akhir segalanya — melainkan cermin bahwa sistem pembinaan, dukungan, dan kesiapan sumber daya manusia Qur’ani harus diperkuat dari hulu hingga hilir.
Kinerja Dinas Syariat Islam Tak Bisa Dinilai dari Hasil Sesaat
Pembinaan qari dan qariah tidaklah bisa diukur dalam waktu singkat. Prosesnya panjang dan memerlukan pelatih berpengalaman, dukungan moral, serta kesinambungan anggaran.
Hasil MTQ Provinsi Aceh 2025 memang menjadi tamparan keras, namun bukan berarti seluruh kerja keras para pembina, pelatih, dan peserta layak dianggap gagal.
Banyak di antara mereka telah berjuang maksimal dalam keterbatasan fasilitas, waktu, dan dukungan logistik.
Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Tenggara bersama timnya sejatinya telah menjalankan pembinaan rutin. Meski begitu, harus diakui bahwa intensitas latihan dan kualitas pembinaan masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing di level provinsi bahkan nasional.
Yang dibutuhkan sekarang bukan saling menyalahkan, melainkan kolaborasi lintas sektor — antara pemerintah daerah, DPRK, tokoh agama, dan masyarakat — untuk memperkuat sistem pembinaan secara menyeluruh.
Suara dari Arena: “Kami Ingin Menang untuk Kebanggaan Orang Tua dan Aceh Tenggara”
Di balik hasil yang mengecewakan, tersimpan kisah haru dan semangat pantang menyerah dari para peserta MTQ.
Salah satu anggota kafilah Aceh Tenggara yang dikonfirmasi usai lomba mengungkapkan perasaannya dengan tulus:
“Kami juga ingin menang, Pak, untuk kebanggaan orang tua kami dan untuk nama baik Kabupaten Aceh Tenggara. Tapi mungkin rezeki belum berpihak tahun ini. Kami akan terus berusaha dan berlatih lebih keras lagi ke depannya.”
Ungkapan sederhana itu mencerminkan semangat generasi muda yang berjuang dengan sepenuh hati. Mereka datang bukan sekadar membawa suara merdu lantunan ayat suci, tetapi juga membawa harapan dan cinta terhadap daerahnya.
Kegagalan bagi mereka bukan akhir, melainkan cambuk untuk bangkit dan berbenah.
“Kami sudah berusaha maksimal. Insya Allah kami akan bangkit dan membawa pulang kebanggaan itu di MTQ berikutnya,” tambah salah satu qariah muda dengan mata berkaca-kaca.
Dari sanalah kita belajar bahwa semangat mereka tak boleh padam. Dukungan moral, pembinaan berkelanjutan, dan perhatian pemerintah adalah kunci agar api perjuangan Qur’ani terus menyala di dada anak-anak muda Aceh Tenggara.
Dibutuhkan Sinergi, Bukan Emosi
Pernyataan tegas Bupati HM Salim Fakhry yang menyoroti kinerja dinas terkait tentu lahir dari rasa tanggung jawab dan keprihatinan.
Namun, tindakan emosional seperti ancaman pencopotan pejabat belum tentu menjadi solusi jangka panjang.
Yang lebih dibutuhkan adalah evaluasi konstruktif berbasis data dan fakta, dengan menyoroti aspek pelatihan, seleksi peserta, manajemen anggaran, hingga dukungan moral dan spiritual bagi para kafilah.
Karena sejatinya, keberhasilan MTQ bukan hanya tentang peringkat dan piala, melainkan bagaimana nilai-nilai Qur’ani tertanam kuat di kalangan generasi muda.
Momentum Kebangkitan Daerah
Kegagalan Aceh Tenggara kali ini seharusnya menjadi titik balik kebangkitan.
Dari pengalaman pahit ini harus lahir semangat baru untuk berbenah dan memperkuat pembinaan secara terstruktur.
Dengan pembinaan yang lebih terencana, peningkatan fasilitas latihan, serta dukungan penuh dari pemerintah daerah dan DPRK, bukan mustahil Aceh Tenggara akan bangkit dan mencatat prestasi membanggakan di ajang MTQ mendatang.
Sebagaimana disampaikan Wakil Ketua DPR Aceh, H. Ali Basrah, bahwa dukungan lintas lembaga sangat menentukan arah pembinaan generasi Qur’ani di masa depan.
Langkah-langkah perbaikan harus dimulai sejak sekarang — bukan menjelang perlombaan.
Dari Evaluasi Menuju Kolaborasi
Masyarakat kini berharap pemerintah tidak lagi terjebak dalam pola menyalahkan, tetapi fokus membangun sistem pembinaan yang kuat dan berkelanjutan.
Sebab di balik setiap kegagalan, tersimpan pelajaran berharga untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Kegagalan bukanlah aib, selama ada kemauan untuk bangkit dan memperbaiki diri.
Kini saatnya semua pihak meninggalkan retorika saling menyalahkan, dan bersatu membangun Aceh Tenggara yang Qur’ani, cerdas, dan berprestasi.
(Redaksi)

































